SUDAH MICROTEACHIING KOK MASIH SALAH KONSEP YA???

Posted: March 27, 2013 in artikel, kependidikan
Tags: ,

mikro“Kamu masih salah konsep mas/mbak” Itu kata-kata yang terucap dari dosen pembimbing microteaching ketika membimbing mahasiswa microteaching. Hampir dari setiap kelas microteaching yang diselenggarakan, sebagian besar mahasiswa yang mengikuti masih mengalami salah konsep dalam penyampaian materinya.

Microteaching yang seharusnya membiasakan para mahasiswa dalam menerapkan teori-teori pembelajaran yang dipelajari malah menjadi seperti kelas ujian lisan konsep-konsep fisika. Konsep-konsep fisika yang akan diajarkan harusnya telah secara matang dibahas dan dikuasai oleh para mahasiswa dari perkuliahan semester – semester sebelumnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apa yang  seharusnya dilakukan untuk meminimalisir hal tersebut?

Menurut hemat saya, kesalahan konsep yang terjadi disebabkan oleh dua faktor yang dominan, yakni kekurang tepatan dosen pengampu mata kuliah dalam memilih metode pembelajaran, serta dimungkinkan penataan kurikulum yang belum maksimal.

Terkadang dosen kurang tepat dalam memilih metode pembelajan. Untuk membelajarkan mahasiswa calon guru diperlukan metode yang berbeda dari metode yang digunakan untuk membelajarkan mahasiswa yang bukan calon guru. Mahasiswa calon guru dituntut untuk paham konsep dari materi pembelajaran, mampu mengaplikasikannya, serta mampu untuk menyampaikannya kepada orang lain dengan bahasa yang mudah dipahami. Sehingga dalam memilih metode pembelajaran, hendaknya para dosen menilik karakter dari materi yang akan disampaikan serta karakter jurusan, ketika membelajarkan mahasiswa calon guru, mengingat karakteristik materi dan jurusannya, kurang tepat ketika memilih metode ceramah murni, hendaknya metode pembelajaran dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penguasaan materi dan penguasaan keterampilan bersosialisaasi dapat dimunculkan.

Alternatif yang mungkin dapat diimplementasikan selanjutnya adalah penambahan jam microteaching. Pelaksanaan microteaching dapat ditambah menjadi satu tahun pelajaran (dua semester) sehingga kesalahan konsep dapat diminimalisir dan akhirnya perguruan tinggi mampu mencetak guru yang professional. Hal ini dapat dipahami karena sangatlah sulit mencetak guru yang professional dalam jangka waktu 6 bulan dengan 16 kali tatap muka, padahal untuk membiasakan suatu perilaku dibutuhkan waktu dengan orde tahunan. Memang membutuhkan waktu lulus yang lebih lama, namun kenapa tidak apabila demi kemajuan pendidikan Indonesia? Dalam hal biaya dan seleksi calon guru adalah menjadi kebijakan pembuat kebijakan sehingga keputusan bisa diterima oleh berbagai pihak.

Sekian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi perkembangan pendidikan Indonesia. (panji Gumilar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s